Minggu, 26 Januari 2014

Minggu 26 Januari



AKAL dan NAFSU selalu perang dalam jiwa tubuh ini.

apa pantas aku mendapatkan-MU ?"
lantas dimana letak wajah yang layak buatku disisi-MU.

begitu tulus kasih-MU terhadapku?

aku ingin selalu bersama-MU,
berubah dalam perubahan-MU,
serta dalam lindungan dan kebahagian-MU.



Minggu, 12 Januari 2014

Panggil Aku Cassanova

Ditulis oleh :  pringadi abdi surya (prince-adi)

18 Agustus 2007
Panggil aku Cassanova. Terlahir dengan penuh cinta. Dan kini, aku menuliskan hidupku untuk menertawakan diriku sendiri. Ya, sebut saja aku cassanova – pangeran cinta – yang dijuluki Master of The Art of Seduction. Voltaire, Goethe, dan Mozart adalah dewaku, kupuja di dalam alam pikirku. Panggil aku Cassanova. Dan jangan samakan aku dengan narcissus yang pantas ditertawakan karena kebodohannya terlalu sempit memandang cinta. Ya, narcissus yang malang yang terlalu mencintai dirinya sendiri dan tak sempat memperhatikan Echo yang mencintainya. Dan jelas pula, aku tak mau tersiksa seperti Sisyphus, seorang raja yang rela menerima ‘cinta’ oleh sebuah batu yang terus dipanggulnya ke atas sebuah bukit yang nyatanya hanya untuk melihat batu itu kembali menggelinding – memohon untuk kembali dipanggulnya.
Panggil aku Cassanova. Sang Maestro Cinta. Bagiku, cinta adalah logika, tak perlu menautkan rasa di dalamnya. Nikmati saja selagi bisa. Buat apa mencinta jika hanya menyiksa? Buat apa cinta jika semua akan sirna? Aku hanya mencintai cinta yang wujud dalam nyata. Terucap ‘Tidak’ bagi cinta yang mengatasnamakan kuasa, apalagi yang mengatasnamakan Tuhan dan agama.

25 Agustus 2007
Telah satu minggu berlalu sejak terlahirnya cinta dalam wujudku – cassanova. Meski sayapku belum tumbuh – tiada – dan ku tak bisa terbang ke angkasa, sebuah hati telah patah. Hati yang terlalu naïf memandang cinta. Dan aku – cassanova – yang telah menjeratnya dalam sandiwara cintaku, sedikit merasa geli kala ia mencoba berbicara tentang cinta. Ia yang tak pernah mengungkap cinta meski dirinya merasakannya. Sampai akhirnya aku bosan dengan sandiwaraku, dan meninggalkannya. Tak acuh meski air mata mengalir membentuk sungai dari muara bathinnya.
Namun jua tak kusangkali bahwa adanya air mata dari nuraniku saat mendengar isakannya. ‘Aku’ juga terisak, tapi aku yang bukan aku – bukan cassanova. Dan kemudian logikaku kembali berbicara untuk usir isak itu. Hah, bukankah begitulah wanita? Cuma mainan semata? Barang yang ditaksir dengan ‘harga’. Dan harga yang bisa kuberikan adalah kata. Kataku yang sebenarnya racun – membunuh, tapi tersamarkan seperti madu yang manis. Kataku pun sebenarnya bak ekstasi yang memabukkan, tetapi kuindahkan seperti obat yang menyehatkan. Begitulah cinta yang terwujud dari diriku. Sedikit meminjam istilah Nietsche; “agama adalah candu”, dan kuimplikasikan dalam cinta; “cinta adalah candu”. Ya, candu bagi mereka yang terjebak dalam skenario cintaku.


Sumber : http://www.kemudian.com/node/85569

Para filosof cerita tentang cinta

Suatu hari plato bertanya pada gurunya.
apa itu "CINTA"?
bagaimana cara menemukannya?

lalu gurunya menjawab : “Masuklah kedalam hutan, berjalanlah dan jangan kembali kebelakang kemudian pilih dan ambilah satu ranting yang menurutmu paling indah, Pada saat kamu memutuskan pilihanmu, keluarlah dari hutan dengan ranting tersebut”.

Maka masuklah plato kedalam hutan dan keluar tanpa membawa sebatang ranting pun. 

Gurunya bertanya,  "mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"

Plato menjawab: ”Saya sebenarnya sudah menemukan ranting yang indah, tetapi saya berpikir barangkali didepan ada ranting yang lebih indah lagi. maka dari itu tak kuambil ranting tersebut. 
saat aku berjalan lebih jauh lagi kedepan ternyata ranting yang sudah saya tinggalkan tadilah yang terbaik. Maka saya keluar dari hutan tanpa membawa apa-apa”

Gurunya kemudian menjawab; “itulah cinta”. 
  
Cinta semakin dicari, semakin tidak ditemukan.

Cinta adanya di dalam lubuk hati,

Ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.

Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta,

Maka yang didapat adalah kehampaan.

Tiada sesuatu pun yang didapat,

Dan tidak dapat dimundurkan kembali.

Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur.

Terimalah cinta apa adanya.

Suara Hujan

Alangkah indahnya bila ada kebersamaan 
dan saling berbagi cerita 
seperti hujan datang dan pergi tak tahu pastinya 
begitu juga waktu yg dilewati
selagi hujan turun, tampung lah airnya
untuk musim kemarau datang 
selagi sempat keluar lah 
untuk melihat dan pejamkan mata
merasakan rintik hujan menyentuh lara
dengannya bisa menenangkan hati
karena aku adalah hujan
jika tidak suka silahkan berteduh